Manado Kota Model Ekowisata
8 Desember 2012 adalah hari ulang tahun kepemimpinan Walikota Manado Vicky Lumentut dan Harley Mangindaan ke-2. Hari bersejarah itu diperingati secara sederhana namun penuh kekeluargaan di Gedung Pemkot Manado. Segudang prestasi berhasil ditorehkan. Tapi pekerjaan rumah nan berat di depan mata juga diakui duet Vikcy-Harley. Beberapa hari sebelumnya Dinas Kominfo Manado menggelar acara bertajuk diskusi walikota dan wakil walikota dengan tokoh-tokoh masyarakat dan kalangan pers di Hotel Sahid Manado. Sayang pada saat itu duet yang diusung Partai Demokrat ini saat pemilihan walikota lalu, berhalangan hadir. Kadis Kominfo Ferry Sutanto dan Sekretaris Franki Mokodompis kemudian bertindak sebagai “juru bicara” sekaligus perantara yang siap meneruskan masukkan, keluhan, kritikan peserta yang hadir. Acara itu menjadi semacam fore play untuk diskusi akhir tahun yang akan menghadirkan walikota dan wakil walikota. Ada rupa-rupa pertanyaan, harapan dan koreksi yang mengemuka dari peserta yang hadir. Satu tema yang menarik perhatian saya yakni tentang visi walikota dan wakil walikota yakni Manado Kota Model Ekowisata. Salah satu teman saya yang berlatar belakang akademisi dan aktifis sempat mempertanyakan apa arti Model Ekowisata. Konsep pariwisata seperti apa yang cocok dan menjadi ciri khas Kota Tinutuan? Sempat muncul penilaian Kota Ekowisata kurang pas dengan kondisi geografis Kota Manado. Belum lagi beberapa teman wartawan mengangkat ke permukaan soal kondisi Manado yang diperhadapkan pada persoalan klasik kota, banjir. Banjir sampah, banjir air dan banjir kendaraan yang masih menjadi pekerjaan rumah dari pemerintah dan masyarakat. Belum lagi persoalan yang sifatnya kasuistik dan relatif yakni mulai hilangnya rasa aman di ibukota Bumi Nyiur Melambai. Sedikit banyak fenomean itu bisa merubah kesan Manado sebagai kota yang menyenangkan, bersih, indah dan aman. Beberapa peserta dalam pembicaran ngalor-ngidul sempat menarik konklusi bahwa Kota Manado sulit atau teramat berat untuk menyandang predikat sebagai kota pariwisata. Simpulan yang mungkin tergesa-gesa dan belum teruji. Kondisi-kondisi yang di angkat ke permukaan itu juga tidak serta-merta diasumsikan visi untuk menjadikan Manado sebagai kota pariwisata, gagal atau tidak relevan untuk menjadi pelecut tercapainya tujuan yang lebih esensial yaitu kesejahteraan warga. Manado sebagai pariwisata sejatinya sudah on the right track. Banyak pakar yang expert di bidangnya mengakui Manado dari banyak aspek seperti posisi dan potensi tidak cocok menjadi kota industri besar misalnya. Apalagi brand image Manado sudah jauh-jauh hari kendati belum juga terlalu lama dikumandangkan sebagai kota pariwisata. Potensi alam, kendati sangat tergantung dari Taman Nasional Laut Bunaken yang terus dirundung masalah, terbilang masih prospektif. Dalam suatu kesempatan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Pangestu mengakui Bunaken masuk dalam rencana strategis 2012-2014. Warganya yang dikenal the smilling people, bisa jadi magnet. Termasuk masyarakatnya yang plural namun rukun. Walau pun hanya mengandalkan itu terasa belum cukup. Kendati juga masih jauh dari asa, Manado sudah jadi buah bibir sebagai The Second Bali. Sayang hingga kini penjajakan penerbangan direct Bali-Manado tak kunjung terealisasi. Manado juga tergolong sebagai 10 besar daerah yang memiliki terumbu karang terindah di dunia. Bahkan di daerah ini terdapat sekretariat Coral Triangle Initiative (CTI) yang konon gedung uniknya menelan biaya hingga Rp.3 triliun. Manado dan Sulut pada umumnya diakui pemerintah pusat sebagai salah satu dari daerah destinasi wisata. Termasuk daerah MICE (meeting, incentive, conference, exhibition). Beberapa tahun terakhir, Manado dan Sulut menjadi tuan rumah even-even skala nasional dan internasional. Tak hanya puluhan tapi ratusan even per tahun baik yang diprakarsai pemerintah, swasta atau pun kolaborasi keduanya telah menjadi daya ungkit dan prime mover bagi sektor perekonomian. Dari segi geoposisi, Manado punya keunggulan karena berada di pintu gerbang Asia Pasifik. Manado yang berada di semenanjung paling utara pulau Sulawesi ini, berpeluang juga menjadi tempat transit setelah hub port internasional dan kawasan ekonomi khusus terealisasi. Kombinasi yang kokoh untuk sebuah kota pariwisata. Disadari juga, membangun kota pariwisata tidak semudah membalik tangan. Hasilnya tidak sekejap namun butuh proses yang panjang. Perlu grand design pariwisata yang kontinyu, konsisten dan sinergi. Perlu juga ada terobosan-terobosan yang dikemas sedemikian rupa dengan kalkulasi resiko yang sudah diperhitungkan. Terutama bagaimana membuat wisatawan tidak hanya tergoda pada pesona yang menipu. Kesan pertama yang terpatri mengecewakan. Sebaliknya, kesan pertama membuat dirinya ingin kembali sekaligus dapat memberi referensi kepada yanglain. Dunia pariwisata memang sering pasang surut. Kadang bergairah, kadang meredup. Buktinya di 2012 ini data yang dibeberkan Badan Pusat Statistik, menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik menurun dibandingkan 2011. Tingkat penghunian kamar di hotel berbintang secara otomatis juga berkurang. Promosi tetap menjadi bagian dari pariwisata. Sehebat apa pun potensi pariwisata, tanpa dikenal orang tidak ada gunanya. Itulah pentingnya promosi. Walau pun metode promosi masih tergantung model yang konvensional seperti ikut pameran. Bukannya itu tidak penting. Tapi metode promosi tidak hanya melulu lewat pameran yang lumayan menguras banyak dana. Sementara metode lain terlupakan. Sebut saja promosi dengan menggunakan kemajuan teknologi informasi. Bukankah salah satu prasyarat di era kompetitif saat ini adalah penguasaan pada science dan technology? Sayang jika tidak dimanfaatkan. Kenyataannya, coba Anda search di paman Google situs pariwisata di Manado dan Sulut. Apa yang Anda ditemukan? Tengok dulu situs atau website yang dikelola oleh dinas pariwisata. Tidak semua kabupaten dan kota memiliki situs yang khusus membahas tentang pariwisata. Kalau pun ada, periksa kapan terakhir diupdate. Pasti akan membuat Anda geleng-geleng kepala. Jika belum puas coba cek fitur-fiturnya. Jangan heran jika Anda akan mengernyitkan dahi. Kalau pun ada informasi pariwisata, jika tidak disebut sangat minim, informasinya teramat kurang. Bandingkan dengan daerah-daerah lain seperti Bali, Jawa Barat, Jawa Timur atau Jogyakarta. Contoh lain, coba Anda ketik situs bunaken dan search. Anda akan menemukan di page rank teratas situs yang resmi dikelola pemerintah yakni oleh Dewan Pengelola Taman Nasional Bunaken. Lagi-lagi informasinya terakhir diupdate pada 2010 silam. Justru yang lebih aktif dalam mempromosikan pariwisata berasal dari kalangan swasta yang memang memiliki kepentingan bisnis. Tentu belum terlambat. Rupa-rupa kendala bukanlah masalah yang tidak bisa teratasi. Justru akan menjadi peluang untuk maju. Masih ada seberkas cahaya di ujung terowongan yang gelap. Selamat HUT buat Walikota Manado dan Wakil walikota. (leximantiri@idmanado.com) http://idmanado.com/manado-kota-model-ekowisata/
.JPG)
Komentar
Posting Komentar