Minahasa, Oh… Minahasa

MINAHASA tempat lahirku. Tempat para pujangga-pujangga lahir. Tak terhitung sudah nama-nama kesohor yang terdengar hingga penjuru Nusantara yang lahir dari perut Tanah Toar Lumimuut. Sejak dahulu kala hingga kini, nama-nama itu telah mengharumkan daerah di semenanjung utara Pulaua Sulawesi ini.
Minahasa oh Minahasa. Di tanah inilah, batu dan tongkat menjadi tanaman, air dan danau menjadi kolam susu. Di tanah ini pula, pesona keindahan dan kekayaan alam menjadi daya tarik hingga bangsa-bangsa asing datang dan saling berebut. Di tanah ini juga bermukim manunusia-manusia yang ramah, gagah dan rupawan.
Minahasa oh Minahasa. Banyak sudah gelar prestisius yang disematkan kepadamu. Negeri penghasil emas cokelat, lumbung padi hingga Bumi Nyiur Melambai. Perutmu juga mengandung emas murni. Di tanah ini pula bersemai nilai-nilai demokrasi yang kini diagung-agungkan. Masih jelas tersimpan di benak kami kejayaan itu.
Minahasa nasibmu kini. Hari ini, Senin, 5 November, usiamu telah berumur 584 tahun. Telah beranak pinak. Sayang, kenapa justru suara sumbang sering dialamatkan padamu, Minahasa. Gerak langkah kakimu dianggap lambat nian. Kalah disbanding anak-anakmu yang mulai berlari cepat. Jika menengok langsung wajah beberapa ikon Minahasa, nada minor itu sepertinya sulit dibungkam. Potret ibukota Tondano saat ini tak banyak berubah dibandingkan puluhan tahun lalu. Pasar Atas dan Pasar Bawah, tempat berinteraksi yang paling dikenal di Minahasa, kini biasa-biasa saja; kalu tidak dibilang makin sepi. Ironisnya, gedung-gedung baru berlomba-lomba tumbuh di kabupaten dan kota sekitar. Di saat para investor berebutan menanamkan modalnya, sebaliknya nama Minahasa hanya sedikit yang melirik.
Wajah Minahasa makin bopeng di saat melihat Danau Tondano. Kecantikannya terenggut oleh oleh virus yang namanya Enceng Gondok. Hamparan Karamba para nelayan makin hari makin terkepung. Apalagi sedikit demi sedikit volume air makin berkurang. Padahal hajat orang banyak bergantung dari danau ini. Selain nelayan, petani sawah dan listrik bergantung dari danau yang disebut juga Danau Toulour. Potret danau ini makin buram karena jalan yang melingkar di seputaran danau lebih banyak dihiasi lubang-lubang yang digenangi air.
Itu hanya sedikit dari deretan persoalan yang melilit bagai lingkaran setan. Tapi Minahasa belum kiamat. Masyarakat tida berpangku tangan. Segala upaya mungkin telah dilakukan untuk membuat wajah Minahasa yang bermuram durja berubah riang gembira. Kendati hasilnya harus diakui masih jauh dari harapan banyak orang.
Membuat perubahan memang tidaklah semudah membalik tangan. Tapi seberat apa pun beban yang dipikul, tetaplah harus dipikul. Sesulit apa pun masalahnya, tetaplah harus dipecahkan.  Ada pepatah yang mengatakan, jika Anda sulit membuat orang lain berubah, mulailah merubah diri sendiri. Mulai dari cara berpikir, perilaku hingga mungkin cara memilih pemimpin kedepan, tempat banyak orang menggantungkan asa. Kebetulan bulan depan, adalah pesta demokrasi bagi rakyat Minahasa untuk memilih orang nomor satu. Jika sebelumnya memilih karena uang, mulailah membiasakan untuk menentukan pilihan karena hati nurani. Konon, kata bijak berbunyi demikian. Nasib rakyat ditentukan sang pemimpin. Makanya, jangan salah pilih.
Momen dirgahayu di hari bersejarah ini janganlah dianggap sebagai perayaan seremonal belaka. Jadikan momentum ini sebagai kesempatan berefleksi. Karena Minahasa berada dalam ruang dan waktu yang berdimensi historis. Minahasa kini tak lepas dari Minahasa dulu, sebaliknya Minahasa esok ditentukan hari ini. Minahasa ibarat emas, yang perlu diolah dan diuji dalam tanur api sehingga bulir-bulirnya bercahaya cemerlang. (lexi mantiri*)


http://idmanado.com/minahasa-oh-minahasa/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Underwater Christmas Celebration, Kado Komunitas Pecinta Laut

Ibu Deetje Sosok yang Setia

Komentar Tentang Pengunduran Diri Paus Benediktus XVI