Dialog, Model Berkonflik secara Rasional
Luka akibat kerusuhan berbau SARA di
Poso, Sulawesi Tengah belum sembuh benar. Tapi tindak kekerasan kembali
terjadi beberapa hari silam. Para pengungsi belum juga kembali semua,
teror sudah muncul lagi. Ikatan tali kerukunan yang dibangun lewat
Deklarasi Malino, kembali diuji. Ujian itu tidak hanya dialamatkan untuk
Poso, tapi juga daerah lain.
Kondisi keberagaman yang menjadi ciri
khas masyarakat Indonesia, memang di satu sisi merupakan kekayaan namun
di sisi lain menyimpan potensi konflik. Secara alamiah, masyarakat yang
mendiami kepulauan Nusantara dalam banyak
hal berbeda dari segi suku, agama dan budaya. Kondisi ini akan menjadi
ibarat api dalam sekam, jika tidak dikelola dengan baik dan tepat.
Bukti anyar terlihat secara kasat mata.
Pandangan-pandangan yang bersifat primordialisme etnis dan agama
akhir-akhir ini makin bertumbuh subur baik di dunia nyata maupun di
dunia maya. Kebencian dan dendam ditabur. Bahkan, dengan terang
benderang kelompok-kelompok fundamentalis tidak lagi sungkan-sungkan
menampakkan diri dengan aturan main sendiri. Akhirnya sekat-sekat
pengaman dan tembok-tembok demarkasi antar kelompok masyarakat makin
lama makin tinggi. Fakta ini mengarah pada simpulan yakni primordialisme
adalah masalah aktual dan urgen untuk diselesaikan karena berdampak
pada bahaya disintegrasi. Pasalnya, primordialisme seringkali
bermanifestasi pada sektarianisme.
Terminologi primordialisme biasanya
mengarah keterlibatan rasa, pikiran dan perilaku berdasarkan lingkungan
sosial asli. Atau loyalitas yang dirasakan berdasar pada realitas
sosial daerah, suku, agama dan ras. Sejatinya primordialisme etnis
maupun primordialisme religius adalah alamiah sejauh karena kelompok
etnis dan religius memang belum terbuka pada ruang lingkup kebangsaan
dan kemanusiaan. Bukan karena masyarakat primordial menolaknya
melainkan karena belum tersentuh.
Primordialisme menjadi negatif tatkala
sikap yang dikedepankan adalah penolakan terhadap kelompok lain
sekaligus juga membenci dan mencurigainya karena segala perhatiannya
tertuju secara eksklusif pada kelompoknya. Primordialisme yang disebut
dalam tulisan ini berarti primordialisme negatif. Atau ketidakmampuan
pribadi atau kelompok masyarakat melampaui lingkungan primordialnya
untuk merasakan loyalitas kepada bangsa dan kemanusiaan. Bahkan dengan
sengaja pribadi dan kelompok membangun identitasnya secara defensif.
Bahkan identitas itu makin dipoles tidak hanya untuk membedakan dengan
identitas kelompok yang lain tapi ditujukan untuk berprasangka negatif
dan menyerang identitas lain.
Warga yang berorientasi pada
primordialisme akan membuat dirinya terkungkung dalam kelompok secara
eksklusif dan ekstrem. Konsekuensinya, semangat dan sikapnya tidak mau
dan tidak mampu untuk melihat kesatuan sosial yang lebih besar dengan
sangat kecil kemungkinan bagi mereka merasakan loyalitas di luar
kelompoknya. Pasalnya mereka akan senantiasa menolak terhadap kebaikan,
kebenaran dari orang lain yang berada di luar kelompoknya. Lebih ekstrem
lagi mereka akan bersikap ofensif terhadap kelompok lain yang
diasumsikan sebagai musuh. Disinilah kemudian muncul sikap
fundamentalisme dan fanatisme yang mewarnai mindset warga.
Fenomena ini memberi penegasan bahwa
kebersamaan sebagai satu bangsa adalah proyek yang belum selesai. Tidak
bisa pandang sebagai taken for granted. Melainkan suatu pekerjaan rumah
untuk masa depan. Dan juga proyek bersama. Artinya semua pihak
berkewajiban untuk berpartisipasi menjaga kebersamaan dalam satu bangsa.
Termasuk juga sebagai proyek raksasa. Karena membangun hubungan antara
kelompok primordial yang menyimpan dan mengandung potensi konflik,
memiliki kecenderungan berbeda dan bertentangan di Bumi Nusantara, bukan
pekerjaan gampang dan instan. Kendati tidak bisa dibilang tidak
mungkin.
Memang perbedaan menyimpan benih
konflik, tapi sekaligus juga benih kebersamaan. Kebhinekaan memiliki dua
kemungkinan sentripetal (persatuan) dan sentrifugal (pemisahan). Proses
menuju pada hidup bersama itu akan sangat tergantung dari kemampuan
warga untuk mengelola dan menyelesaikan konflik menuju pada kerjasama.
Koridor ini mau tidak mau harus harus dilewati dan ditempuh, karena
kenyataan berlainan membawa konsekuensi logis munculnya konflik. Konflik
tidak dapat dihindari, melainkan harus diterima karena secara kodrati
perbedaan melekat pada setiap manusia. Kegagalan atau keberhasilan dalam
menyelesaikan konflik ini akan menjadi parameter lemah kuatnya
kebersamaan sebagai satu bangsa.
Warga harus dikondisikan untuk terlatih
dalam berdialog. Perbedaan pendapat, keyakinan dan identitas jangan
diidentikkan dengan pertentangan (kontroversi). Dialog adalah model berkonflik secara rasional. Karena di dalam dialog,
konflik diangkat ke dalam tataran rasional, diolah dan dipikirkan
resolusinya yang direncanakan dan diputuskan bersama. Dalam iklim
seperti ini, warga diperbiasakan untuk saling bertukar gagasan, pendapat
dan pemikiran antar kelompok primordial. Warga butuh keajaiban dialog sebagai komunikasi sehingga menjadi perekat esensial untuk mendapatkan hasil signifikan dan solusi alternatif. Lewat dialog
akan dipertegas bahwa terdapat hal-hal yang sama, tetapi juga ada
hal-hal yang berbeda. Berkonflik secara rasional dapat dianggap langkah
maju dalam usaha untuk mempererat ikatan kebersamaan dan bukan
mempersyaratkan keberlainan untuk hidup berdampingan. Kebersamaan akan
diperkokoh karena terjalin komunikasi yang sehat dan intensif dengan
jalan dialog. Dialog adalah pilihan karena di dalamnya termuat suatu panggilan untuk duduk bersama bukan sekadar bertatap muka untuk saling menilai tapi berjalan bergandengan tangan sambil menatap visi kebersamaan.
Untuk sampai pada taraf itu, memang dibutuhkan pengakuan secara jujur terhadap perbedaan untuk menghindari bergesernya dialog
pada bipolarisme antagonis. Kedua kubu tidak bisa memposisikan diri
untuk saling meniadakan dan mengecualikan pilihan. Dalam konteks ini
menjadi penting adanya koridor untuk berkonflik. Materi dan dan visi dialog
mesti diarahkan pada kebersamaan, yakni penciptaan iklim hidup
berdampingan. Apabila kelompok-kelompok primordial tidak bisa
mengintegrasikan dan memfungsikan perbedaan dalam rangka kebersamaan
akan membawa kemungkinan pada potensi konflik yang menjurus pada konflik
fisik. Konflik harus diangkat ke permukaan. Dalam dialog,
dasar kehidupan bersama yang otentik dan mendalam makin dijernihkan.
Dengan pikiran yang jernih dan nurani yang bening, kesejahteraan bersama
dapat menjadi koridor yang efektif.
Para anggota masyarakat juga dapat
berdialog dan duduk bersama-sama apabila warga memiliki persamaan
derajat dan martabat. Kita tak bisa membayangkan dialog
yang seimbang apabila warga dipisahkan oleh diskriminasi. Yang akan
terjadi tak lain adalah saling mendominasi, saling memaksakan keinginan
kelompok mayoritas dan mengabaikan minoritas. Dalam prinsip ini,
dikotomi mayoritas dan minoritas tidak akan menciptakan dialog. Dialog juga mensyaratkan kesamaan kedudukan bagi warga di hadapan hukum.
Di sisi lain, untuk bisa berdialog
secara efektif, warga juga harus mengembangkan sikap yang memungkinkan
terjalinnya hubungan kerjasama secara damai. Pertama, sikap saling
menghormati dan dan menghargai keberlainan. Mau tidak mau dalam
interaksi sosial mensyaratkan sikap inklusif lewat penghargaan keunikan
dan kekhasan identitas kelompok yang lain. Kedua, sikap pengakuan.
Dibutuhkan sikap afirmasi bukan negasi; bukan saja sekadar menghormati
tapi juga diakui keberadaannya untuk tumbuh dan berkembang. Sikap yang
mensyaratkan toleransi positif karena menuntut pengakuan terhadap
kelompok lain yang memiliki hak yang sama untuk hidup wajar dan adil.
Yang banyak melindungi yang sedikit, dan yang sedikit menghormati perasaan yang banyak.
Dan ketiga, sikap penerimaan. Sikap ini mengharuskan individu atau
kelompok untuk mengakui bahwa di kelompok primordial yang lain juga
memiliki kebenaran. Warga mesti keluar dari sarang kelompoknya untuk
berjalan menemui nilai kebenaran dan kebaikan yang dipancarkan identitas
yang lain. Lewat perjumpaan individu dapat menyaring manfaat yang bisa
dipetik, kemudian dibawa pulang dan dijadikan bahan refleksi untuk
memperkaya dan memperkembangkan identitasnya. Semoga. (Oleh: Lexi Th.
Mantiri/PP Pemuda Katolik Korwil Sulutenggo/Wakil Ketua DPD KNPI Sulut)
Komentar
Posting Komentar